Langsung ke konten utama

3 Golongan Karyawan

Ada 3 golongan karyawan yang bisa saya bagi disini agar supaya kita bisa membedakan karyawan kita termasuk golongan yang mana sih? Patut untuk dipertahankan atau nggak sih?


Berikit 3 golongan tersebut:

1. Karyawan bekerja untuk mengisi waktu luang

     Karyawan yang pada perusahaan tujuannya untuk mengisi waktu luang saja apa bagus untuk dipertahankan? Jelas tidak dong🙂. Kenapa? Karena mereka yang bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang saja bisa dipastikan bahwa kinerjanya diperusahaan nanti akan asal-asalan, karena memang niatnya bekerja hanya untuk menghabiskan waktu saja.
       Kebanyakan yang menempati kategori ini adalah mereka anak-anak muda yang baru lulus sekolah dan kondisi keuangannya termasuk golongan mampu. Yang kedua yaitu ibu rumah tangga, yang suaminya termasuk golongan mampu. Dia juga pun nantinya akan asal-asalan dalam bekerja, karena memang tujuan bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang.

2. Karyawan bekerja untuk mencari pengalaman / meningkatkan wawasan

      Karyawan yang bekerjanya tujuannya untuk mencari pengalaman ini jauh lebih baik, daripada karyawan yang tujuannya hanya untuk mengisi waktu luang saja. Mengapa demikian? Karena, orang yang ada rasa ingin tau tentang sesuatu yang baru itu biasanya mereka punya semangat yang tinggi untuk bisa disuatu bidang. Untuk masalah hasil, biarlah waktu yang menilai. Perusahaan nggak ada ruginya untuk membimbingnya sampai dalam ketegori mahir. Jangan terlalu hitung-hitungan dengan cost untuk peningkatan kualitas kinerja karyawan asal orangnya tepat. Maksudnya kita harus bisa menilai antara orang layak bertahan di perusahaan atau nggak layak.  Jika layak, maka mereka sudah seharusnya dibimbing untuk mencapai tingkat yang lebih baik lagi di perusahaan. Nggak ada ruginya perusahaan membimbingnya, karna apapun yang kita perbuat, entah itu baik ataupun buruk, nanti akan tetap berbalik pada diri kita kembali. Begitupun di perusahaan, sama juga akan berbalik pada perusahaan. Daripada menabur keburukan, lebih baik menabur kebaikan. Iya atau ya? Hehe.

3. Karyawan bekerja untuk mendapatkan penghasilan

    Untuk yang ketiga yaitu, karyawan yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Ini tipe karyawan yang harus diprioritaskan. Mengapa demikian? Karena memang mencari penghasilan adalah tujuan utama manusia untuk tetap bisa bertahan hidup. Tanpa penghasilan yang cukup, maka kehidupan manusiapun pastinya akan menjadi lebih sulit untuk mencukupi kebutuhan hidupnya yang mana semakin hari nilai kebutuhan manusiapun akan juga menjadi semakin tinggi. Makanya bisa dibilang 99% karyawan yg tipe ini, mereka lebih bersungguh-sungguh/lebih loyal dengan pekerjaannya jika dibandingkan dengan yang tipe 1 dan 2 tadi.

Baik, itu aja dulu sharing dari saya, moga bermanfaat ya🙂.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Bedanya Pernyataan, Mempertanyakan, dan Pertanyaan?

Inilah penjelasannya.. Pernyataan "Aku tak setuju dengan teorimu, karena bla bla bla..” "Menurut aku yang benar adalah seperti ini…” Jika kita menemui orang yang telah memberikan pernyataan, penilaian, pendapat, tanpa ada kalimat tanya, lebih baik tak perlu dijelaskan, karena 90% argumen kita akan dipatahkan dengan alasan atau doktrin yang telah diyakininya. Termasuk saat orang menilai buruk tentang diri kita. Biarkan saja, toh penilaian hakiki itu ada dimata Allah. "Janganlah memberi makan kepada orang yang kekenyangan. Janganlah memberi minum kepada orang yang 'kembung' perutnya.” Mempertanyakan "Mana mungkin bisa seperti itu..?” "Masak sih bisa bisnis tanpa modal..?” Peluang menjawab pertanyaan dengan keraguan seperti ini adalah fifty-fifty . Mungkin mereka memerlukan bukti lebih lanjut. Mungkin mereka merasa "terlalu indah untuk dipercaya”. Dengan penjelasan yang masuk nalar mereka, in syaa Allah mereka akan menerima. Tapi jika ki...

Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Iri di Dalam Dunia Wirausaha

Wajar ketika anda menjadi seorang pengusaha, anda merasa ingin terhubung dan memiliki koneksi dengan pengusaha sukses lainnya. Ini merupakan hal yang sulit. Namun setiap kali beberapa orang berada dalam lingkaran sosial tersebut, mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Sementara, pengusaha yang tidak memiliki koneksi bisa dikatakan ‘kurang’ berhasil. Rasa iri di dalam dunia wirausaha dapat menyebabkan kerusakan hubungan sosial dan kolaborasi potensial. Dan tentunya dapat merusak berbagai hal, karena sering muncul di hati setiap manusia. Anda mungkin pernah menemukan ‘rasa iri’ di salah satu dari peristiwa berikut : 1. Ketika pekerjaan yang dapat orang lain selesaikan dengan baik, sedangkan anda tidak mampu melakukannya. 2. Ketika anda mampu melakukan sesuatu dengan baik, tetapi yang lain tidak mampu. 3. Dan ketika tidak ada yang benar-benar mampu melakukan dengan baik, kecuali satu orang yang memang sangat berbakat. Berikut adalah cara menangani setiap situasi tersebut,...