Langsung ke konten utama

Pemimpin yang ideal

Saat akan atau baru mulai, motivasi yang naik turun dan  ketidakfokusan   menjadi masalah. Bukan modal ya. Kalau saat awal usaha sudah bilang 'modal', bisa dipastikan karena 'cacat mental'.
Modal menjadi masalah (beneran) saat akan mengembangkan usaha (fase kedua). Saat dimana permintaan pasar melebihi kemampuan (modal) produksi.
Saat modal sudah didapat, karyawan mulai direkrut, nah mulai fase berikutnya, yaitu memimpin tim. Anak muda biasanya lemah dalam hal ini, karena ambisius dan ego yang besar. Alhasil, berantakanlah produksi atau penanganan bisnis, kualitas / servis menurun, pelanggan kabur. Bangkrut deh, hehehe. Siapa yang mengalami? Cung ..!
Fase ini adalah fase terkritis. Hal ini juga dibahas di kitab bisnis ternama " E-Myth, why most small business do not work and what to do about it ", yaitu transformasi teknisi - manajer - entrepreneur.
Kalau dalam bahasa saya, "Ujung-ujungnya bisnis ada di leadership ..". Bagaimana seorang pendiri atau pemimpin puncak dalam organisasi memimpin timnya dengan harmonis. 
Nyaris Semuanya Berpola
Jika seorang pengusaha bolak balik mengeluhkan perilaku karyawannya.
Jika angka 'turn over ' di perusahaan tinggi. Jika mayoritas karyawan tak loyal atau bekerja benar, saat dalam pengawasan ketat saja. Jika pengusaha 'merasa' dikhianati, meski kesejahteraan karyawan sudah terbaik. 

Maka itulah indikator atau tanda-tanda leadership-nya lemah. Sayang, mereka sering 'kurang rendah hati' untuk mengakui kesalahan dalam kepemimpinannya. Sampai saat tim berganti, mereka tetap mengulangi pola   gagal yang sama.
Berujung dengan keluhan lagi ...
fitur Pemimpin
Dari pengamatan saya terhadap para pemimpim yang (nyaris) sempurna, setidaknya memiliki fitur-fitur:
1.Seimbang antara kasih sayang dengan ketegasan.
Tahu saatnya 'menampar' dan 'membelai'. Jika hanya membelai, tanpa ketegasan saat terjadi kesalahan fatal, maka akan mengembangbiakkan virus dalam organisasi. Jika tegas (mendekati sadis), tanpa belaian, akan menimbulkan situasi horor dan kerja 'kucing-kucingan'; tunduk di depan, bandel di belakang.
2.Fokus ke solusi bukan kambing hitam.
Jika terjadi masalah, lebih terfokus mencari solusi dibanding menyalahkan berlebih. Marah saat menemukan kesalahan itu manusiawi, tapi tak berlarut dan langsung mencari solusinya. Kesalahan yang terjadi dalam perusahaan, sering bisa dijadikan sebagai pembenahan sistem ( kaizen ).
3.Sportif
Marah itu manusiawi, asal gak kebablasan dan mau mengakui kesalahan. Seorang Umar bin Khaththab yang setan pun takut saat dia marah, mau segera mengakui kesalahan dan meralat fatwanya (kisah fatwa tentang mahar). Pemimpin juga manusia ..
4.Pemurah dan tulus.
Anda dapat memberikan gaji yang tinggi, insentif yang wow , namun tanpa ketulusan, tak akan membuat karyawan loyal. Jangan maknai loyalitas sebagai pengabdian seumur hidup. Yang disebut tim loyal adalah sesuai perkataan / perbuatan di depan dan belakang kita, bekerja tanpa hitungan, sampai membela kita saat kita tak ada sekalipun.  
Loyal adalah buah dari bibit perlakuan Anda ke tim. Jika menanamnya dengan hati, buahnya akan manis alami, bukan 'manis buatan'. Jika menanamnya dengan 'modus berharap balik', maka saat tak berbalas akan menimbulkan kekecewaan. Kekecewaan menjadi energi negatif yang ditangkap oleh tim kita. "Ternyata bos kita ada maunya ..". Jika kita perhitungan, tim pun perhitungan. Ikatan emosional pun berkurang, bahkan negatif.
5.Mengembangkan
Pemimpin besar paham, seorang tim yang bagus dan handal, bukanlah seorang 'anjing penurut' (sengaja kasar), tapi seorang manusia yang ingin maju. Maka tugas pemimpin untuk mengembangkan mereka. Dan bila saatnya tiba, besar hatilah untuk melepas mereka bertumbuh di luar. Biarkan mereka menjadi pemimpin lainnya.
Tugas kita adalah menumbuhkan mereka, namun bukan hak kita memetik buahnya (secara  langsung). # Renungkan
6.Besar Hati
Jika hatinya kecil, maka akan gampang tersakiti. Jika hatinya besar atau lapang, akan mudah memaafkan, bahkan tetap welas asih meski dikhianati. Para pemimpin cerdas yang kita kenal, seperti Bung Karno, Nelson Mandela, Mother Teresa, Mahatma Gandhi, tentu saja para nabi, sahabat dan wali, berlimpah kasih sayangnya. Jangankan sakit hati, justru cenderung merasa kasihan, karena menganggap umat sebagai anak-anaknya yang sedang tersesat.
Jika welas asihnya tinggi, keserakahan akan teredam, pemurah jadi praktek, ketulusan timbul, energi positif terpancar.   Bukan hanya loyalitas sebagai buahnya, namun akan menarik rejeki dari arah yang tak disangka-sangka.  # Zero
Catatan: Inspirasi film kepemimpinan terbaik yang pernah saya tonton adalah serial OMAR (Umar bin Khatthab)

Sumber, jaya Setiabudi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Bedanya Pernyataan, Mempertanyakan, dan Pertanyaan?

Inilah penjelasannya.. Pernyataan "Aku tak setuju dengan teorimu, karena bla bla bla..” "Menurut aku yang benar adalah seperti ini…” Jika kita menemui orang yang telah memberikan pernyataan, penilaian, pendapat, tanpa ada kalimat tanya, lebih baik tak perlu dijelaskan, karena 90% argumen kita akan dipatahkan dengan alasan atau doktrin yang telah diyakininya. Termasuk saat orang menilai buruk tentang diri kita. Biarkan saja, toh penilaian hakiki itu ada dimata Allah. "Janganlah memberi makan kepada orang yang kekenyangan. Janganlah memberi minum kepada orang yang 'kembung' perutnya.” Mempertanyakan "Mana mungkin bisa seperti itu..?” "Masak sih bisa bisnis tanpa modal..?” Peluang menjawab pertanyaan dengan keraguan seperti ini adalah fifty-fifty . Mungkin mereka memerlukan bukti lebih lanjut. Mungkin mereka merasa "terlalu indah untuk dipercaya”. Dengan penjelasan yang masuk nalar mereka, in syaa Allah mereka akan menerima. Tapi jika ki...

Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Iri di Dalam Dunia Wirausaha

Wajar ketika anda menjadi seorang pengusaha, anda merasa ingin terhubung dan memiliki koneksi dengan pengusaha sukses lainnya. Ini merupakan hal yang sulit. Namun setiap kali beberapa orang berada dalam lingkaran sosial tersebut, mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Sementara, pengusaha yang tidak memiliki koneksi bisa dikatakan ‘kurang’ berhasil. Rasa iri di dalam dunia wirausaha dapat menyebabkan kerusakan hubungan sosial dan kolaborasi potensial. Dan tentunya dapat merusak berbagai hal, karena sering muncul di hati setiap manusia. Anda mungkin pernah menemukan ‘rasa iri’ di salah satu dari peristiwa berikut : 1. Ketika pekerjaan yang dapat orang lain selesaikan dengan baik, sedangkan anda tidak mampu melakukannya. 2. Ketika anda mampu melakukan sesuatu dengan baik, tetapi yang lain tidak mampu. 3. Dan ketika tidak ada yang benar-benar mampu melakukan dengan baik, kecuali satu orang yang memang sangat berbakat. Berikut adalah cara menangani setiap situasi tersebut,...

3 Golongan Karyawan

Ada 3 golongan karyawan yang bisa saya bagi disini agar supaya kita bisa membedakan karyawan kita termasuk golongan yang mana sih? Patut untuk dipertahankan atau nggak sih? Berikit 3 golongan tersebut: 1. Karyawan bekerja untuk mengisi waktu luang      Karyawan yang pada perusahaan tujuannya untuk mengisi waktu luang saja apa bagus untuk dipertahankan? Jelas tidak dong🙂. Kenapa? Karena mereka yang bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang saja bisa dipastikan bahwa kinerjanya diperusahaan nanti akan asal-asalan, karena memang niatnya bekerja hanya untuk menghabiskan waktu saja.        Kebanyakan yang menempati kategori ini adalah mereka anak-anak muda yang baru lulus sekolah dan kondisi keuangannya termasuk golongan mampu. Yang kedua yaitu ibu rumah tangga, yang suaminya termasuk golongan mampu. Dia juga pun nantinya akan asal-asalan dalam bekerja, karena memang tujuan bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang. 2. Karyawan bekerja untuk mencari peng...