Langsung ke konten utama

Pentingnya Cashflow yang Sehat

Teman teman, selama ini anda berbisnis,fokus mengejar profti atau cashflow?

Bila seseorang pengusaha mengejar net profit.bisa terjebak dalam kondisi tidak lancarnya cashflow. karena yang dinamakan profit, bisa hanya sebatas angka dilaporan keuangan. Profit bisnis saya sekian M. Tapi ternyata cash alias uangnya sedang tudak ada dikantong, alias banyak piutang yang tidak lancar. Bila hal seperti ini terjadi, seperti sebuah tubuh manusia yang terkena penyakit penyumbatan pembuluh darah. Karena aliran darahnya tidak lancar, bisa mengakibatkan kematian mendadak atau kematian karena kurang darah.

Apa sih pentingnya cashflow bagi sebuah perusahaan?

pentingnya cashflow sendiri yaitu.
bila sebuah perusahaan, omsetnya bisa mencapai sekian triliun dalam sebulan, tapi kondisi cashflownya gak sehat, bisa dipastikan meskipun omsetnya sebesar itu, bisnis ini bisa bangkrut mendadak, karena kondisi duwit ditangannya tidak bisa untuk membayar semua pengeluaran, baik itu gaji,sewa, belanja bahan baku, bahan bisa termasuk hutang, dan bunga ribanya.

contoh kedua. sebuah bisnis brandnya terkenal se indonesia. siapa yang tidak tahu akan brand ini, tapi bila kondisi cashflownya tidak sehat.alias cash in nya tidak bisa mencukupi cash out. maka perusahaan ini bisa bangkrut seketika.

contoh ketiga.sebuah perusahaan omsetnya pas pasan. brandnya tidak terlalu terkenal. tapi cashflownya sehat.cash in realnya bisa selalu diatas cash out real. menghasilkan keuntungan real, ada duitnya, tidak hanya keuntungan diatas kertasnya saja.
maka insya allah bisnis ini akan berkembang sedikit demi sedikit. meskipun kondisi omsetnya terbatas, brandnya tidak terkenal.

Bagaimana cara menaikkan profit?

Untuk menaikkan profit, dengan kondisi cashflow yang sehat, ada 2 cara.
1. menaikkan omset(menaikkan cash in)
2. menurunkan cost(mengecilkan cash out)
 
Mana diantara  dua cara ini yang paling ngefek untuk menaikkan profit?

Kalau menaikkan cash in itu nggak ada batasnya. bisa naik 100, 200, 500,atau bahkan 1000%. Contoh saya lagi mencoaching seorang mahasiswa unair,dan masih kuliah. Sebelum saya coaching, bisnisnya menyedihkan sering nggak ada cash ditangan bahkan sering nombok untuk membiayai segala pengeluaran. Iyalah mahasiswa, masih baru belajar bisnis. Tapi alhamdulillah saat ini dia serius untuk mengejar gol terget omset jadi 300% dibandingkan sebelum dikasih tau caranya. Insya allah bulan ini bisa dicapai, dan setelah dicapai golnya akan ditinggikan lagi. Kita sepakat dulu ya, untuk mencapai kenaikkan omset itu tidak ada batasnya. Bisnis apapun itu. Kecuali bisnis yang dipatok pemasukannya oleh undang undang, seperti kebijakan kuota.
Kalau kita membahas penghematan cost tanpa mengurangi kualitas, maksimal hanya bisa sampai 20-30% saja. Misal, bila bahan bakunya biasa beli di supermarket, atau dipasar tradisional. Kalau bisa beli di pabriknya langsung atau beli ke petaninya, tentu bisa jauh lebih murah. tapi disana ada batas minimal pembeliannya. dengan adanya batas minimal pembelian, jadi target jumlah penjualannya akan meningkat. Kecuali punya tehnology penyimpanan yang bagus, atau biaya gudang akan meningkat.
Coba bayangkan meskipun industri besar, dia bisa menghemat bahan baku berapa persen maksimal? Apakah bisa menghemat bahan baku sampai 100%, alias gak siap atau tanpa beli bahan baku sama sekali? atau bisa menghemat bahan baku sampai 200, 500, bahkan 1000%? alias suplier bahan bakunya malah yang bayar, bukan prudusennya?
Contoh lain diperusahaan besar pun, kedudukan apa yang gajinya bisa mendekati atau bahkan menyamai gaji seorang direktur? Pasti teman teman tau, yaitu gaji dibidang marketing atau bagian penjualan  teman teman. Apakah ada gaji seorang bagian produksi, atau bagian gudang, yang gajinya hampir mendekati gaji seorang direktur?
jadi kesimpulannya, kalau menaikkan cash in itu nggak ada batasnya, tapi kalau menurunkan cash out itu maksimal hanya bisa sampai 30% saja.

Apa yang menyebabkan cashflow perusahaan menjadi tidak sehat?

Salah satu penyakit yang menyebabkan cashflow perusahaan tidak sehat yaitu karena duit perusahaan tidak bisa dipisahka dengan duit pribadi dan keluarga owner.
Bagai mana cara agar duit perusahaan benar benar bisa terpisah dengan duit pribadi owner?
Bila yang satu ini kacau, dijamin sebesar apapun bisnis anda, bakalan berantakan. Seperti bila bisnis anda diandaikan sebuah gedung tinggi. Anda mau membangun gedung dengan ketinggian 50 lantai. Menuju lantai 10, bangunai ini fondasinya akan retak, dan akan roboh sebentar lagi. Tapi yakinlah bisnis yang cashflownya sehat, meskipun lama berkembangnya, tapi step by step bisnis ini akan besar dan semakin kuat. Gak seperti bisnis yang dikarbit. Dibangun secepat kilat untuk bisa megah dan menjulang tinggi tanpa membangun selantai demi selantai. Kalau 1 lantai belum kuat, maka tidak dipaksa untuk membangun lantai selanjutnya. Dalam bisnis, penyakit yang paling banyak diderita dalam hal cash flow adalah masalah bercampurnya duit bisnis dengan duit pribadi atau keliarga. Bagaimana cara mengatasinya? Untuk menjawab hal ini harus memakai pertanyaan seperti ini. Apakah owner bisnis ini sudah on business, atau masih in business dalam mengerjakan bisnisnya? Bila masih in business yaitu pengusaha masih bekerja dalam bisnisnya, masih harus meluangkan waktu, tenaga, pikirannya untuk bisnis, belum bisa benar benar tidak bersentuhan dengan bisnisnya, 2 minggu , sampian 2 bulan, bisnis bisa berjalan tanpa kesusahan. Kalau sudah seperti ini, bisa dikatakan owner ini sudah on business. Jadi ia sudah tidak perlu bekerja dalam bisnisnya. Terus apa hubungannya dengan cashflow? bila seseorang masih harus bekerja untuk bisnisnya, agar bisnisnya bisa berjalan, jadi semestinya dia harus digaji, seperti seorang pekerja. Karena ia memeng bekerja dalam bisnisnya. Harus digaji seperti karyawan, bulanan fix. Dan hanya uang bulanan inilah yang hanya bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarganya seharihari. Haram hukumnya saat dia menggunakan dana lain selain dari gajinya, dipakai untuk kepentingan pribadinya dan keluarganya.
Bagaimana ia memutuskan berapa jumlah gajinya? Terserah dia sebagai owner, karna owner itu tidak ada siapapun diatasnya kecuali Allah. Yang akan mengganjal jumlah gaji unlimited perbulan ini adalah bukan seseorang, tapi kondisi bisnisnya. Seberapa besar gaji perbulan yang owner sendiri tetapkan untuk ia dapatkan per bulan, mengakibatkan satu hal yang penting, yaitu adalah besarnya target omset yang harus dikejar, yang harus terwujud dengan cara apapun. Karena kalau dia menetapkan gaji super besar, tapi pencapaian omset perbulannya kecil,  akan dijamin dalam hitungan bulan, bisnisnya bakalan bangkrut. Karena itu owner dalam menetapkan gaji alias duit yang bisa dipakai untuk kehidupan sehari harinya, tergantung dari kemampuan perusahaannya menguasai omset atau seles. Kalau ada profit? tetap owner tidak boleh mengambil apalagi memakai. Profit akan terus disimpan, diendapkan dan hanya bisa diambil dan ditentukan mau dipakai untuk apa saja. Misal diambil seluruhnya untuk owner, atau ada sebagian yang diinvestasikan untuk membeli mesin baru, atau untuk tetap diendapkan di kas perusahaan. Dan hal ini hanya bisa dilakukan minimal perbulan. Per 12 bulan ini lebih bagus. Hal yang baik yang akan didapat oleh owner adalah karena keuntungannya diendapkan dalam setahun, baru bisa dipakai, sehingga jumlahnya akan sangat besar, tidak icrit icrit kecil.
Bila kebutuhan owner sangat besar, sehingga untuk bisa mendapatkan gaji sesuai yang diinginkan, ternyata perusahaan tidak bisa untuk memberinya karena penggapaian omset belum bisa tercapai. Jadi owner hanya bisa melakukan 2 hal.
1 Owner bersabar. perkecil pengeluarannya.
2. Owner berusaha lebih keras berkali-kali lipat agar perusahaannya bisa mencapai target omset yang bisa menggaji sesuai dengan standart yang diinginkan.

Bagaimana cara owner bisa menghitung target omset yang harus dikejar?

Bersambung dulu yaaa... ;-)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Bedanya Pernyataan, Mempertanyakan, dan Pertanyaan?

Inilah penjelasannya.. Pernyataan "Aku tak setuju dengan teorimu, karena bla bla bla..” "Menurut aku yang benar adalah seperti ini…” Jika kita menemui orang yang telah memberikan pernyataan, penilaian, pendapat, tanpa ada kalimat tanya, lebih baik tak perlu dijelaskan, karena 90% argumen kita akan dipatahkan dengan alasan atau doktrin yang telah diyakininya. Termasuk saat orang menilai buruk tentang diri kita. Biarkan saja, toh penilaian hakiki itu ada dimata Allah. "Janganlah memberi makan kepada orang yang kekenyangan. Janganlah memberi minum kepada orang yang 'kembung' perutnya.” Mempertanyakan "Mana mungkin bisa seperti itu..?” "Masak sih bisa bisnis tanpa modal..?” Peluang menjawab pertanyaan dengan keraguan seperti ini adalah fifty-fifty . Mungkin mereka memerlukan bukti lebih lanjut. Mungkin mereka merasa "terlalu indah untuk dipercaya”. Dengan penjelasan yang masuk nalar mereka, in syaa Allah mereka akan menerima. Tapi jika ki...

Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Iri di Dalam Dunia Wirausaha

Wajar ketika anda menjadi seorang pengusaha, anda merasa ingin terhubung dan memiliki koneksi dengan pengusaha sukses lainnya. Ini merupakan hal yang sulit. Namun setiap kali beberapa orang berada dalam lingkaran sosial tersebut, mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Sementara, pengusaha yang tidak memiliki koneksi bisa dikatakan ‘kurang’ berhasil. Rasa iri di dalam dunia wirausaha dapat menyebabkan kerusakan hubungan sosial dan kolaborasi potensial. Dan tentunya dapat merusak berbagai hal, karena sering muncul di hati setiap manusia. Anda mungkin pernah menemukan ‘rasa iri’ di salah satu dari peristiwa berikut : 1. Ketika pekerjaan yang dapat orang lain selesaikan dengan baik, sedangkan anda tidak mampu melakukannya. 2. Ketika anda mampu melakukan sesuatu dengan baik, tetapi yang lain tidak mampu. 3. Dan ketika tidak ada yang benar-benar mampu melakukan dengan baik, kecuali satu orang yang memang sangat berbakat. Berikut adalah cara menangani setiap situasi tersebut,...

3 Golongan Karyawan

Ada 3 golongan karyawan yang bisa saya bagi disini agar supaya kita bisa membedakan karyawan kita termasuk golongan yang mana sih? Patut untuk dipertahankan atau nggak sih? Berikit 3 golongan tersebut: 1. Karyawan bekerja untuk mengisi waktu luang      Karyawan yang pada perusahaan tujuannya untuk mengisi waktu luang saja apa bagus untuk dipertahankan? Jelas tidak dong🙂. Kenapa? Karena mereka yang bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang saja bisa dipastikan bahwa kinerjanya diperusahaan nanti akan asal-asalan, karena memang niatnya bekerja hanya untuk menghabiskan waktu saja.        Kebanyakan yang menempati kategori ini adalah mereka anak-anak muda yang baru lulus sekolah dan kondisi keuangannya termasuk golongan mampu. Yang kedua yaitu ibu rumah tangga, yang suaminya termasuk golongan mampu. Dia juga pun nantinya akan asal-asalan dalam bekerja, karena memang tujuan bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang. 2. Karyawan bekerja untuk mencari peng...