Langsung ke konten utama

Apa Itu Mindset

Apa itu Mindset? 

Mindset itu adalah sebuah pola pikir atau kebiasaan berpikir. Kebiasaan ini adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang sehingga secara otomatis terjadi. Mindset itu awalnya ada yang mengedukasi, atau ada yang menanamkan. Semisal sebuah contoh. Kalau dari kecil anda itu terbiasa meminta, kemudian permintaan anda dikabulkan. Segala permintaan anda dikabulkan. Secara tidak langsung, anda dimanjakan oleh orang tua anda. Sehingga setiap permintaan anda dikabulkan. Anda meminta apapun, pasti dikabulkan. Dan ternyata akhirnya hidup anda tidak seperti masa kecil anda. Rupanya ketika anda beranjak remaja dan dewasa, ada permintaan anda yang tidak bisa dikabulkan. Tapi akhirnya mindset anda memberontak, dan akhirnya anda merasa jengkel. Anda merasa kecewa. Karena apa? Ternyata permintaan saya tidak bisa dikabulkan. Akhirnya anda mendapatkan suatu mindset baru. Mendapatkan suatu pola pikir/pelajaran baru. Rupanya saya tidak bisa meminta. Mungkin saya harus menangis. Saya harus menjerit-jerit. Baru akhirnya permintaan saya dikabulkan. Banyak anak kecil yang seperti itu. Akhirnya, banyak anak kecil yang menangis histeris. Akhirnya dengan cara yang seperti itu. Supaya dia tidak menjerit-jerit, supaya dia tidak menangis, dan orang tuanya tidak malu di keramaian orang banyak, akhirnya dikabulkan. Inilah yang menyebabkan suatu perilaku, membuat sebuah mindset bahwa kalau dia menginginkan sesuatu, dia harus menjerit-jerit. Itulah sebab ada istilah zaman sekarang, yaitu ‘lebay’. Kenapa dia harus seperti itu, mengekspresikan dirinya di social media agar dirinya mendapatkan atensi dan perhatian. Itu juga salah satu bentuk dari mindset. Mindset ini bisa beraneka ragam. Contoh, misalkan saat anda masih kecil. Orang tua anda selalu menanamkan kata-kata : “Nak, belajarlah yang rajin. Dulu orang tua susah mencari uang, sampai tidak bisa sekolah. Kamu harus belajar yang rajin. Karena apa? Uang sekolah itu mahal. Ayah mencari nafkah untuk mendapatkan uang supaya kamu bisa bersekolah itu tidak mudah”. Apabila nilai anda bagus, setelah lulus ketika anda mencari kerja akan mudah. Banyak perusahaan mau menerima anda sebagai karyawan. Dan anda mudah sekali dalam mencari kerja. Otomatis, mindset yang ada dalam pikiran anda adalah : ‘Anda harus mendapatkan nilai yang bagus, supaya mudah diterima ketika mencari pekerjaan’ . Dan hal ini sangat bertentangan dengan Entrepreneur Mindset. Kalau di dalam entrepreneur mindset, anda tidak perlu nilai yang bagus. Nilai itu penting, tapi bukan hal yang paling penting. Kemudian setelah lulus, anda bukan mencari pekerjaan. Tapi justru menciptakan lapangan pekerjaan. Beda jika orang tua anda menekankan entrepreneur mindset dari kecil. Ini sesuatu yang akhirnya menyebabkan setelah anda tamat kuliah nanti, atau tamat sekolah nanti, anda tidak harus mencari pekerjaan. Sekali lagi, ini karena mindset yang dibangun sejak masa kecil. 1. Mindset yang dibangun dari channel Channel ini juga salah satunya adalah untuk membangun dan agar anda memiliki entrepreneur mindset. Bagaimana cara agar memiliki mindset yang tangguh. Channel motivasi. Ini yang kami bahas. Sehingga channel ini jarang dibahas di bangku sekolah maupun di bangku kuliah. Anda bisa dapatkan apa yang tidak pernah dibahas atau jarang dibahas di bangku sekolah ataupun bangku kuliah. Channel ini akan memberikan anda edukasi seperti itu. Juga agar dapat membangun mindset anda dengan lebih baik. Oleh sebab itu sahabat entrepreneur , jika anda ingin memiliki mindset seperti apapun, gampang. Anda tinggal cari channel sesuai keinginan anda. Apabila setiap hari anda menonton channel yang anda sukai, maka mindset anda tidak akan jauh berbeda dengan channel tersebut. 2. Mindset yang dibangun dari buku Bisa juga dari buku yang anda baca. Apa buku yang anda baca? Kalau anda suka buku novel, romansa contohnya. Maka kehidupan percintaan anda tidak akan jauh berbeda dengan yang ada di novel tersebut. Mungkin begitu dramatis. Karena apa? Secara tidak langsung, channel atau buku tersebut mengajarkan kehidupan seperti yang anda inginkan. Akhirnya, mindset anda terpola seperti itu. Oleh sebab itu, jika anda ingin memiliki pola pikir seperti apa, kebiasaan berpikir seperti apa, hal itulah yang menjadikan anda memiliki mindset seperti itu. Jadi berhati-hatilah dengan buku yang anda baca, video yang anda tonton, kemudian juga lagu yang anda dengarkan. Karena itu akan membentuk mindset anda. Kalau anda sudah membangun mindset anda, maka mindset anda tidak akan jauh berbeda dengan apa yang anda tonton, apa yang anda baca, serta teman berkumpul anda setiap hari. Kalau teman anda setiap hari sukanya bergosip, dan anda nyaman dengan suasana bergosip, maka anda bekerja tidak akan produktif. Karena apa? Anda nyaman bergosip. Dengan anda setiap hari bergosip, maka niscaya mindset anda ‘kalau tidak bergosip tidak enak’. Sepertinya satu hari saja kalau tidak bergosip, rasanya tidak enak. Kalau anda tidak ada teman bergosip, akhirnya anda bergosip di social media . Anda setiap hari seperti itu. Karena itu sudah menjadi mindset anda. Saya hari ini hanya ingin menegaskan. Anda ingin menjadi seperti apa, tadi sudah saya berikan tipsnya di atas. Jadi anda ingin punya mindset seperti apa, mulai dari sekarang, putuskan anda ingin menjadi orang yang seperti apa.
 
Sumber: Chandra Putra Negara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Bedanya Pernyataan, Mempertanyakan, dan Pertanyaan?

Inilah penjelasannya.. Pernyataan "Aku tak setuju dengan teorimu, karena bla bla bla..” "Menurut aku yang benar adalah seperti ini…” Jika kita menemui orang yang telah memberikan pernyataan, penilaian, pendapat, tanpa ada kalimat tanya, lebih baik tak perlu dijelaskan, karena 90% argumen kita akan dipatahkan dengan alasan atau doktrin yang telah diyakininya. Termasuk saat orang menilai buruk tentang diri kita. Biarkan saja, toh penilaian hakiki itu ada dimata Allah. "Janganlah memberi makan kepada orang yang kekenyangan. Janganlah memberi minum kepada orang yang 'kembung' perutnya.” Mempertanyakan "Mana mungkin bisa seperti itu..?” "Masak sih bisa bisnis tanpa modal..?” Peluang menjawab pertanyaan dengan keraguan seperti ini adalah fifty-fifty . Mungkin mereka memerlukan bukti lebih lanjut. Mungkin mereka merasa "terlalu indah untuk dipercaya”. Dengan penjelasan yang masuk nalar mereka, in syaa Allah mereka akan menerima. Tapi jika ki...

Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Iri di Dalam Dunia Wirausaha

Wajar ketika anda menjadi seorang pengusaha, anda merasa ingin terhubung dan memiliki koneksi dengan pengusaha sukses lainnya. Ini merupakan hal yang sulit. Namun setiap kali beberapa orang berada dalam lingkaran sosial tersebut, mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Sementara, pengusaha yang tidak memiliki koneksi bisa dikatakan ‘kurang’ berhasil. Rasa iri di dalam dunia wirausaha dapat menyebabkan kerusakan hubungan sosial dan kolaborasi potensial. Dan tentunya dapat merusak berbagai hal, karena sering muncul di hati setiap manusia. Anda mungkin pernah menemukan ‘rasa iri’ di salah satu dari peristiwa berikut : 1. Ketika pekerjaan yang dapat orang lain selesaikan dengan baik, sedangkan anda tidak mampu melakukannya. 2. Ketika anda mampu melakukan sesuatu dengan baik, tetapi yang lain tidak mampu. 3. Dan ketika tidak ada yang benar-benar mampu melakukan dengan baik, kecuali satu orang yang memang sangat berbakat. Berikut adalah cara menangani setiap situasi tersebut,...

3 Golongan Karyawan

Ada 3 golongan karyawan yang bisa saya bagi disini agar supaya kita bisa membedakan karyawan kita termasuk golongan yang mana sih? Patut untuk dipertahankan atau nggak sih? Berikit 3 golongan tersebut: 1. Karyawan bekerja untuk mengisi waktu luang      Karyawan yang pada perusahaan tujuannya untuk mengisi waktu luang saja apa bagus untuk dipertahankan? Jelas tidak dong🙂. Kenapa? Karena mereka yang bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang saja bisa dipastikan bahwa kinerjanya diperusahaan nanti akan asal-asalan, karena memang niatnya bekerja hanya untuk menghabiskan waktu saja.        Kebanyakan yang menempati kategori ini adalah mereka anak-anak muda yang baru lulus sekolah dan kondisi keuangannya termasuk golongan mampu. Yang kedua yaitu ibu rumah tangga, yang suaminya termasuk golongan mampu. Dia juga pun nantinya akan asal-asalan dalam bekerja, karena memang tujuan bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang. 2. Karyawan bekerja untuk mencari peng...