Langsung ke konten utama

Covert Selling

Udah pernah denger istilah COVERT SELLING? Covert Selling adalah sebuah upaya memasukkan sebuah informasi yang berhubungan dengan penjualan secara sekilas ke pikiran bawah sadar calon pembeli...
 Intinya, teknik ini akan membuat kita jualan secara terselubung. Menjual, tapi nggak kelihatan menjual. Karenanya banyak orang menyebut teknik ini sebagai teknik "Ghoib"... Kenapa covert selling? Karena pada dasarnya, orang nggak suka dijualin. Apa buktinya orang gak suka dijualin? Kalau ada orang nyepam di grup, Anda risih ngelihatnya. Iya, kan? Kalau ada yang komen jualan di status Anda, tentu Anda BT, kan? Setiap kali ada iklan di TV, kebanyakan dari kita langsung ambil remot, pindah channel. Betul, kan? Itulah yang melatarbelakangi teknik ini muncul. Karena terselubung, maka biasanya kehadiran "jualan" nya tidak akan disadari oleh pikiran sadar. Tapi walaupun begitu, akan tetap disadari oleh pikiran bawah sadar.
Artinya, walaupun tidak bisa disasari, kehadirannya bisa dirasakan. Untuk lebih kebayang perbedaannya, yuk perhatikan 2 contoh berikut ini...
 Status pertama:
 "Ukhti, ada model terbaru nih dari Shaliha Hijab, namanya Khimar Safana. Bahannya adem banget, enak dipake. Kalau ukhti mau order, silakan chat Pin BB: 2BD8F25B ya!"
 Status kedua:
"Wah, bener2 gak nyangka. Baru 1 hari dilaunching, Khimar Safana ini laris banget dan diserbu para akhwat. Alhamdulillah...."

 Coba Anda perhatikan contoh di atas... Menurut Anda, mana yang lebih nyaman Anda lihat dan enak dibaca? Kebanyakan, orang akan memilih status kedua. Anda juga, kan? Contoh lagi....
 Status pertama:
 "Buku terbaru! Ayo siapa yang mau beli buku terbaru dari kang Dewa Eka Prayoga. Klik aja deh disini » https://goo.gl/8pVDju (gambar: foto cover buku)
 Status kedua:
 "Hehehe... Kebayang banget, kalau misalkan teman-teman bisa tahu ilmu INI. Orang bakal klepek-klepek baca status Facebook kita, terus tiba-tiba banyak yang ngechat, dan ujung-ujungnya pada beli. Beuuuuuh, ngeri!!" (gambar: screen shoot daftar isi buku)

 Dari dua contoh di atas, apakah Anda makin kebayang perbedaan antara covert selling dan bukan covert selling? Sebelum Anda makin paham dengan teknik ini, ketahui terlebih dahulu bahwa ada 3 pilar penting yang mesti Anda pahami sebelum Anda menguasainya. Apa sajakah itu?

 (1). CURIOUSITY
Salah satu poin penting dalam covert selling adalah memainkan RASA PENASARAN. Karena semakin orang penasaran, semakin hasrat keponya tinggi. Semakin kepo, semakin ingin cari tahu apa persisnya. Semakin tahu apa persisnya yang dijual, semakin kebayang benefitnya. Kalau udah tahu benefitnya, semakin gampang orang tersentuh hatinya. Tanya2 dan beli deh.. ^_^
 (2). AMBIGUITY
Selain rasa penasaran, ambiguitas (makna ganda) pun menjadi poin penting dalam covert selling. Tujuannya, agat pembaca merepresentasikan kata tersebut sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Maka, sangat penting membuat kata yang samar2 untuk mereka tafsirkan sendiri.
 (3). EMOTIONALLY
 Khusus pilar ketiga, ini biasanya dimainkan ketika Anda buat status di Facebook, dikombinasikan antara covert selling dan story telling. Nah, pas cerita, emosinya kudu dapet. Jangan cuma datar gitu aja. Anda bisa mainkan hal-hal emosional dan bersifat lebih detail. Untuk lebih kebayang, lebih jelas, dan lebih detail mengenai penjelasan tersebut di atas, InsyaAllah nanti akan Anda temukan di buku Saya : GARA-GARA Facebook.

 Sumber: Dewa Eka Prayoga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Bedanya Pernyataan, Mempertanyakan, dan Pertanyaan?

Inilah penjelasannya.. Pernyataan "Aku tak setuju dengan teorimu, karena bla bla bla..” "Menurut aku yang benar adalah seperti ini…” Jika kita menemui orang yang telah memberikan pernyataan, penilaian, pendapat, tanpa ada kalimat tanya, lebih baik tak perlu dijelaskan, karena 90% argumen kita akan dipatahkan dengan alasan atau doktrin yang telah diyakininya. Termasuk saat orang menilai buruk tentang diri kita. Biarkan saja, toh penilaian hakiki itu ada dimata Allah. "Janganlah memberi makan kepada orang yang kekenyangan. Janganlah memberi minum kepada orang yang 'kembung' perutnya.” Mempertanyakan "Mana mungkin bisa seperti itu..?” "Masak sih bisa bisnis tanpa modal..?” Peluang menjawab pertanyaan dengan keraguan seperti ini adalah fifty-fifty . Mungkin mereka memerlukan bukti lebih lanjut. Mungkin mereka merasa "terlalu indah untuk dipercaya”. Dengan penjelasan yang masuk nalar mereka, in syaa Allah mereka akan menerima. Tapi jika ki...

Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Iri di Dalam Dunia Wirausaha

Wajar ketika anda menjadi seorang pengusaha, anda merasa ingin terhubung dan memiliki koneksi dengan pengusaha sukses lainnya. Ini merupakan hal yang sulit. Namun setiap kali beberapa orang berada dalam lingkaran sosial tersebut, mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Sementara, pengusaha yang tidak memiliki koneksi bisa dikatakan ‘kurang’ berhasil. Rasa iri di dalam dunia wirausaha dapat menyebabkan kerusakan hubungan sosial dan kolaborasi potensial. Dan tentunya dapat merusak berbagai hal, karena sering muncul di hati setiap manusia. Anda mungkin pernah menemukan ‘rasa iri’ di salah satu dari peristiwa berikut : 1. Ketika pekerjaan yang dapat orang lain selesaikan dengan baik, sedangkan anda tidak mampu melakukannya. 2. Ketika anda mampu melakukan sesuatu dengan baik, tetapi yang lain tidak mampu. 3. Dan ketika tidak ada yang benar-benar mampu melakukan dengan baik, kecuali satu orang yang memang sangat berbakat. Berikut adalah cara menangani setiap situasi tersebut,...

3 Golongan Karyawan

Ada 3 golongan karyawan yang bisa saya bagi disini agar supaya kita bisa membedakan karyawan kita termasuk golongan yang mana sih? Patut untuk dipertahankan atau nggak sih? Berikit 3 golongan tersebut: 1. Karyawan bekerja untuk mengisi waktu luang      Karyawan yang pada perusahaan tujuannya untuk mengisi waktu luang saja apa bagus untuk dipertahankan? Jelas tidak dong🙂. Kenapa? Karena mereka yang bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang saja bisa dipastikan bahwa kinerjanya diperusahaan nanti akan asal-asalan, karena memang niatnya bekerja hanya untuk menghabiskan waktu saja.        Kebanyakan yang menempati kategori ini adalah mereka anak-anak muda yang baru lulus sekolah dan kondisi keuangannya termasuk golongan mampu. Yang kedua yaitu ibu rumah tangga, yang suaminya termasuk golongan mampu. Dia juga pun nantinya akan asal-asalan dalam bekerja, karena memang tujuan bekerjanya hanya untuk mengisi waktu luang. 2. Karyawan bekerja untuk mencari peng...